Oleh: Khadimul Ummah, Imam Mustofa
Ada sebuah bait syair tentang syarat mencari ilmu yang cukup masyhur dari seorang ulama abad ke-8, yaitu al-Zarnuju. Untaian ini selalu hidup dalam denyut nadi kalangan pencari ilmu, khususnya di dunia pesantren. Inti sari dari bait tersebut adalah pencari ilmu memerlukan kecerdasan, kesungguhan, kesabaran, bekal, bimbingan guru, dan waktu panjang (Al-Zarnuji: 2004).
Semua poin dalam bab tersebut pada dasarnya sangat penting diperhatikan dan dipegangi oleh para pencari cahaya ilmu. Namun, di sini akan difokuskan pada aspek bimbingan guru (irsyadu ustadzin). Hal ini karena guru merupakan komponen terpenting dalam proses pembelajaran dan pendidikan. Ungkapan irsyadu ustadzin menegaskan bahwa guru bukan sekadar sosok yang memberikan materi pembelajaran, sekadar orang yang mengajar di ruang-ruang kelas atau majelis ta’lim. Lebih dari itu, irsyadu ustadzin memosisikan guru sebagai matahari kecil yang menyinari perjalanan murid dalam menelusuri hamparan savana kehidupan.
Kita bisa mengatakan bahwa saat ini ilmu dapat didapat dari manapun, terlebih di era teknologi digital yang mampu menghadirkan narasi berbagai bidang ilmu yang tak terbatas ruang dan waktu. Seseorang bisa mengakses konten apa pun dalam mengembangkan diri dan proses belajar. Ilmu dapat dibaca dari lembaran kitab, buku, artikel atau media tertentu dari sumber mana pun. Akan tetapi, adab, ketajaman rasa, feel, perspektif dan keberanian dan kesantunan moral tidak lahir dari narasi semata. Semua itu sering lahir dari kedekatan dengan sosok yang telah lebih dahulu menyeberangi samudra pengalaman, yaitu Guru. Maka sangat wajar apabila al-Zarnuji menasihati para pengembara ilmu agar memilih guru yang lebih alim, lebih wara’, dan lebih matang akalnya, karena guru adalah arah kiblat intelektual bagi murid. Relasi guru dan murid tersebut pada dasarnya relevan dengan gagasan pendidikan modern yang menempatkan hubungan guru-murid sebagai fondasi pembelajaran bermakna, bukan sekadar transaksi informasi (Roorda et al.: 2011). Kedekatan dengan guru membuat ilmu tidak jatuh menjadi serpihan data, melainkan menjelma jalan hidup yang berakar pada akhlak yang berbuah pengabdian yang tulus.
Tradisi Islam memosisikan Guru sebagai pewaris cahaya kenabian. Guru yang alim adalah pewaris para nabi (al-‘ulama’ waratsatul anbiya’). Guru adalah sosok yang melanjutkan rantai pengembangan ilmu pengetahuan. Kemuliaan guru bukan karena ia bebas dari kekurangan dan kesalahan serta kekhilafan, melainkan karena ia menjaga mata rantai ilmu yang bersambung kepada para ulama dan Rasulullah tersebut. Makna “ulama adalah pewaris nabi” bukanlah kultus personal, melainkan penghormatan kepada amanah ilmu yang dititipkan kepada orang-orang berpengetahuan dan bermoral tinggi. Tidak berlebihan bila al-Ghazali menempatkan pengajaran sebagai amal mulia seorang Guru, karena guru membantu jiwa manusia keluar dari kegelapan kebodohan menuju cahaya makrifat (al-Ghazali: 2005). Kedekatan seorang murid, seorang pelajar, seorang siswa, seorang mahasiswa, seorang santri dengan guru, merupakan ikhtiar mendekat kepada mata air tradisi yang menghidupkan. Seorang pelajar yang mengais ilmu pengetahuan tanpa petunjuk seorang guru, ia dapat tersesat dalam lorong labirin kesombongan.
Hamparan Sejarah Islam menggambarkan bahwa ulama besar hampir selalu lahir dari perjumpaan yang intens antara murid dan guru. Imam al-Syafi‘i, misalnya, yang ilmu dan jalan fikihnya masih dikuti jutaan manusia di jagat raya, menimba ilmu dan dekat dengan Guru Agung, Imam Malik. Al-Syafi’i dengan penuh ta’zhim, mendengar al-Muwaththa’ bukan sebagai teks kering, melainkan sebagai taman hadis yang dijaga oleh penjaga yang agung. Kedekatan itu melahirkan bukan hanya kecakapan fikih, tetapi juga ketajaman metodologis yang membentuk ushul fiqih. Contoh lain, Hujjatul Islam, al-Ghazali yang keilmuannya selalu bersinar sampai saat ini mempunyai intensitas tinggi dan sangat hormat kepada sang Guru, Imam al-Haramain al-Juwaini. Beliaulah salah satu ulama terbesar dalam mazhab Syafi’i dan guru utama bagi Imam al-Ghazali. Tradisi kedekatan guru dengan murid ini menjadi fakta bahwa ilmu bertumbuh dalam suasana hormat. Hati dan kepala yang tawadhu’, dada yang menunduk di hadapan sang Guru bisa jadi lebih cepat menyerap Cahaya pengetahuan dan mengungkap rahasia ilmu daripada kepongahan dan kesombongan yang selalu merasa cukup.
Kedekatan murid dengan Guru dalam proses belajar bukan berarti hanya mendekati secara fisik tanpa adab, karena jarak yang dekat tanpa adab malah akan menjadi kabut kelam yang membutakan hati. Dekat dengan Guru berarti dekat dalam perhatian, kesiapan menerima bimbingan, kesungguhan menjaga amanah, dan kesediaan dan ketulusan dikoreksi dan dibimbing. Al-Zarnuji menegaskan bahwa murid sebaiknya tidak berjalan di depan guru, tidak duduk di tempat guru, tidak memulai bicara tanpa izin, dan tidak memperbanyak kata yang mengganggu ketenangan guru (al-Zarnuji: 2003). Ibn Jama‘ah menjelaskan bahwa murid harus memuliakan guru, menjaga waktu pertemuan, menghindari sikap mendahului penjelasan, dan memperhatikan isyarat batin dalam majelis ilmu (Ibn Jama‘ah: 2012). Etika murid dengan Guru ini harus dibaca secara kontekstual sebagai latihan kesadaran diri, bukan pemadaman nalar kritis. Pendidikan modern juga mengakui bahwa relasi yang hangat, tertib, dan saling menghormati dapat meningkatkan keterlibatan belajar. Adab seorang murid dengan Guru dapat menjadi perisai emas yang menjaga agar kedekatan tidak berubah menjadi mata pedang kelancangan menusuk sang Guru. Kerendahan hati kepada guru menjadi lembah subur tempat air ilmu berhenti, meresap, dan menumbuhkan kebajikan.
Banyak murid yang melupakan adab dengan Guru karena kedekatan emosionalnya. Ia meletakkan mahkota penghormatan kepada sang lentera yang memberikan cahaya kehidupan. Maka sangat wajar, al-Zarnuji memberikan peringatan:
العِلْمُ حَرْبٌ لِلْفَتَى الْمُتَعَالِي كَالسَّيْلِ حَرْبٌ لِلْمَكَانِ الْعَالِي,
“Ilmu memerangi pemuda yang sombong sebagaimana banjir tidak menetap di tempat tinggi”.
Siapa pun gurumu, kedekatan dan adab dengan guru akan menjadi semilir keberkahan yang menerpa sekujur tubuhmu yang seang meniti jalan pengetahuan. Ia menjadi spirit yang tak tampak dari luar, ia tidak selalu mudah diukur dengan angka, tetapi nyata terasa dalam kejernihan hati, kelapangan pikiran, dan manfaat ilmu. Berkah dari kedekatan murid dengan sang Guru bukanlah sihir intelektual, melainkan bertambahnya kebaikan yang mengalir bagaikan mata air di tengah padang gersang kebodohan.
Kedekatan murid dengan Guru bukan hanya sekadar hubungan intens dalam proses belajar. Kedekatan dengan Guru merupakan seni menimba ilmu, seni menyelami lautan kehidupan, seni dalam membuka belantara kebodohan. Guru bukan hanya sekadar sosok yang menyematkan mahkota kehormatan di kepala seorang murid. Guru adalah pemancar Cahaya dalam dada murid untuk menuntunnya mengarungi samudera kehidupan yang terkadang penuh badai coba yang tak menentu. Dekatlah dengan Guru, hormatlah kepada Guru, Insyallah ilmu akan meresap ke dalam dadamu. Keberkahan akan menyelimuti hidupmu.




