IAI HASYIM ASY'ARI OKI

Melampaui Keunggulan Akademik, Generasi Masa Depan Harus Beretika, Intelektual, dan Religius di Era AI

Share

 

OGAN KOMERING ILIR, 20 September 2026 — Perkembangan artificial intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, termasuk dalam dunia pendidikan. Namun, persoalan utama di era AI bukan semata-mata seberapa cerdas teknologi tersebut, melainkan seberapa bijak manusia dalam menggunakannya.

Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Ritri Oviyanti, M.Ag (Guru Besar UIN raden Fatah Palembang) dalam kegiatan Stadium General di Kampus Institut Agama Islam Hasyim Ashari, Ogan Komering Ilir, Minggu (20/9/2026). Kegiatan tersebut mengangkat tema “Melampaui Keunggulan Akademik: Membangun Generasi Ethical, Intellectual, and Religious di Era Transformasi Artificial Intelligence.”

Dalam pemaparannya, Prof. Ritri menekankan bahwa kemampuan teknologi tanpa nilai dapat kehilangan arah. Karena itu, manusia perlu memiliki tujuan dan landasan nilai dalam setiap aktivitas, termasuk ketika memanfaatkan AI.

“Persoalan terbesar itu bukan masalah berapa cerdas AI, tetapi seberapa bijak manusia menggunakannya. Kemampuan tanpa nilai akan kehilangan arah. Jadi, kita harus punya arah dalam apa pun kegiatan kita,” ujarnya.

 

AI Mengolah Data, Manusia Memberikan Makna

Prof. Ritri menjelaskan bahwa AI memiliki kemampuan yang sangat besar dalam mengolah berbagai informasi. Teknologi tersebut dapat mengolah data, mengenali pola, menghasilkan teks dan gambar, memberikan rekomendasi, hingga membantu menyelesaikan berbagai persoalan. Namun, kemampuan tersebut memiliki batas. Menurutnya, terdapat peran yang tetap menjadi kekuatan utama manusia, yaitu memaknai, menilai, mempertimbangkan, dan berempati.

Perbedaan tersebut menjadi penting ketika AI semakin banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Manusia tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus mampu menentukan bagaimana teknologi digunakan secara bertanggung jawab.

Karena itu, Institut Agama Islam Hasyim Ashari menanamkan tiga pilar utama dalam menghadapi era transformasi AI, yakni etika, intelektual, dan religius.

 

Etika Menjadi Penentu Arah

Pilar pertama adalah etika. Manusia harus mampu membedakan mana yang benar dan salah serta bertanggung jawab atas pilihan yang dibuat.

“Ketika teknologi memberikan kemampuan, maka etika memberikan arah,” jelasnya.

Di tengah kemudahan menggunakan AI, integritas menjadi semakin penting. Salah satunya adalah kejujuran dalam memanfaatkan teknologi, termasuk mencantumkan sumber ketika menggunakan informasi atau materi yang diperoleh dari pihak lain.

Menurutnya, kemajuan teknologi tidak boleh membuat manusia mengabaikan prinsip kejujuran dan tanggung jawab.

 

Intelektual: Kritis, Kreatif, dan Terus Belajar

Pilar kedua adalah intelektual. Generasi yang hidup di tengah perkembangan AI perlu memiliki kemampuan berpikir kritis dan kreatif serta memiliki semangat untuk terus belajar. Kemudahan memperoleh informasi tidak selalu berarti seseorang memiliki pemahaman yang benar. Justru karena informasi semakin mudah diterima dan disebarluaskan, kemampuan untuk memeriksa dan memahami informasi menjadi semakin penting. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah membagikan informasi tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.

“Zaman sekarang data dan informasi gampang sekali kita terima, gampang sekali di-share. Jadi perlu koreksi dan pemahaman, perlu tabayun, jangan asal share,” tegasnya.

 

Religius sebagai Landasan Kehidupan

Pilar ketiga sekaligus yang ditekankan sebagai landasan utama adalah religiusitas. Menurut Prof. Ritri, manusia membutuhkan iman dan spiritualitas sebagai dasar dalam menjalani kehidupan, termasuk dalam menghadapi perkembangan teknologi.

Dalam perspektif Islam, nilai-nilai agama menjadi bingkai dalam menjalankan berbagai aspek kehidupan. Karena itu, kecanggihan teknologi perlu ditempatkan dalam kerangka nilai dan tanggung jawab kepada Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan.

Religiusitas diharapkan menjadi pondasi yang membantu manusia tetap memiliki arah ketika berhadapan dengan berbagai perubahan yang ditimbulkan oleh teknologi.

 

Pendidikan Tidak Sekadar Mengajarkan Cara Menggunakan AI

Lebih jauh, Prof. Ritri menegaskan bahwa pendidikan di era AI tidak boleh berhenti pada kemampuan teknis menggunakan teknologi.

“Pendidikan tidak cukup mengajarkan bagaimana menggunakan AI. Pendidikan harus mengajarkan kapan, mengapa, dan untuk apa AI digunakan,” ujarnya.

Menurutnya, pendidikan juga tidak semata-mata berkaitan dengan persiapan seseorang untuk memperoleh pekerjaan. Pendidikan memiliki fungsi yang lebih luas, yakni meningkatkan kapasitas diri manusia.

Orang yang memperoleh pendidikan diharapkan mengalami perubahan dalam cara berpikir, cara bertindak, dan cara berperilaku. Dampaknya pun tidak berhenti pada individu, tetapi dapat meluas kepada keluarga dan masyarakat.

Dengan demikian, di tengah transformasi AI, keunggulan akademik perlu berjalan bersama pembentukan karakter. Generasi masa depan tidak hanya dituntut cakap menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menentukan arah penggunaannya dengan etika, kemampuan intelektual, serta landasan religius.

(Humas IAIHA)

Scroll to Top

PENDAFTARAN MAHASISWA BARU TELAH DIBUKA!

Ingin informasi lengkap tentang PMB?